Mojokerto,LLC.ID – Pemberitaan media online www.cekpos.id yang berjudul “Beralibi Kesepakatan Bersama, Ketua Komite MAN 2 Mojokerto Diduga Tentukan Uang Gedung Jutaan Rupiah” yang juga diunggah melalui media sosial Tik Tok resmi cekpos, terpantau padat hari Senin (07/09/2026) mendapatkan komentar dari warganet. Bahkan beberapa komentar mengungkapkan fakta yang dialaminya di MAN 2 Mojokerto.
“Postingan yang sudah ditonton ratusan ribu warganet, mendapat ribuan like, ribuan kali dibagikan, serta ratusan disimpan itu, sekitar 90% berkomentar tentang buruknya dunia pendidikan yang ada di Kabupaten Mojokerto, khususnya MAN 2 Mojokerto. Bahkan ada yang mengaku, aksi permintaan uang gedung yang disulap menjadi amal jariyah tersebut dipaksakan.
Tidak sedikit yang membenarkan terkait pemberitaan tersebut dan praktek tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan, ada yang merasa belum terjadi kesepakatan oleh seluruh wali murid namun tetap dipaksakan untuk menandatangani selebaran kertas yang menyetujui dan sanggup memenuhi nominal sebesar itu.
“Yang bersedia dan sanggup memenuhi permintaan uang gedung yang dipoles menjadi amal jariyah tersebut, hanyalah keluarga – keluarga yang mampu.
Sedangkan, kita ketahui bersama bahwa ekonomi masyarakat saat ini sangat membuat hati miris. Namun, seolah tidak peduli terhadap kondisi wali murid, diduga MAN 2 Mojokerto melalui Komite Sekolah menetapkan tarif hingga jutaan Rupiah.
“Dari permintaan – permintaan yang diluar nalar inilah yang membuat para generasi penerus bangsa tidak dapat meneruskan sekolahnya. Yang berujung tingkat SDM di negara ini semakin merosot.
Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi alat untuk menciptakan masyarakat atau SDM yang sangat mumpuni guna meningkatkan kemajuan bangsa, diduga diubah menjadi ajang bisnis yang mengutamakan keuntungan.
“Tidak jarang, jika tidak memenuhi pembayaran tersebut, banyak lulusan sekolah yang Ijazahnya ditahan. Salah satunya seperti yang dilakukan Baznas Kabupaten Mojokerto. Dimana lembaga tersebut sudah menebus ratusan Ijazah yang ditahan oleh berbagai sekolah.
Hal ini, menunjukkan bahwa, pendidikan di Indonesia semakin merosot. Dan ini, akan menciptakan kemunduran seperti di Zaman Penjajahan Belanda. Hanya kaum bangsawan dan kaum berduit yang dapat mengecap dunia pendidikan. Sedangkan, kaum rakyat jelata hanya boleh menjadi penonton.
“Sementara itu Syaiful Baithurohman selaku pimpinan redaksi cekpos.id sangat prihatin dengan kondisi dan keadaan dunia pendidikan di Mojokerto,besar harapan segera ada tindakan tegas dari aparat berwenang untuk segera melakukan tindakan bagi sekolah yang terbukti melakukan pelanggaran demi terwujudnya dan menyukseskan program pemerintah.






